Sabtu, 11 Mei 2013

11-05-2013 15:11


Entahlah aku harus memulainyadari mana. Yg aku tau hanyalah aku sedang sakit. Aku tertekan atas kejadian dirumah yg menumpuki pikiranku selama ini dan aku hanya bis aterdiam dan tak mau menceritakannya dengan kekasihku.

Beberapa minggu yg lalu aku sudah menyelesaikan ujian nasional dan beberapa bulan yg lalu aku telah berulang tahun yg ke-18 dan merayakannya bersama kekasih hatiku tak lain lagi dia! Nahdli

Dari akhir bulan maret, entahlah apa yg aku rasa. Masih sekitar tentang rasa keluh kesal yg membebani pikiranku. Seakan cintanya semakin semu dan tak nyata. Dan berujung pada moodku yg tak setabil. Ya… akhirnya dikit-dikit marahan dan membesar-besarkan masalah sepele.

Diujung bulan april dimana hari ulang tahunku, akupun merasa begitu. Aku tak seakan tak percaya jika dia masih menyayangiku seperti dulu. Hadian special kejutan dll, aku dapatkan saat hari itu. Aku hanya merasa bahagia sesaat, dan setelahnya seperti biasaanya mood yg ugal-ugalan.

UNAS telah selesai dan rasanya ingin memeluknya erat :’) apa yg aku pikirkan saat itu hanayalah ingin memeluknya, karna ku tau aku tak mungkin bisa memeluknya lagi.
Namun disaat aku memeluknya, dia bercerita tentang temannya yg meminjam uang kepadanya. Hati serentak di buang ke ujung samudera. Nominal yg cukup besar jika untk anak sekolahan seperti diriku dan dia. Dan apa lagi kita belum bisa cari uang itu dengan keringat kita sendiri.

Moment yg seharusnya aku bahagia dan bersenang-senang dipelukannya menjadi sebuah cambuk yg berjajar di punggungku. Kamu terlalu baik, sayang. Jangan! Kemarahanku memuncak setelah dia selesai bercerita. Ahh dia tau apa? Dia enggak tau bagaimana susahnya cari uang! Aku yg biasanya membantu orangtuaku untuk mengerjakan pekerjaannya ternayata susah dan tidak segampang itu.

Aku membayangakan jika orang tuaku adalah bosnya dan aku hanya sekedar karyawan. Susah sekali mengerjakannya dan harus benar-benar teliti. Aku sampai-sampai hati muak karena ocehan orangtuaku sendiri yg memarahiku jika pekerjaanku salah! Bayangkan, sayang. Aku hanya tak ingin kamu terlalu baik denga temanmu.
Aku mulai bertanya, jika keadaan berbanding terbalik. Apakah temanmu masih inging memberikan sedikit uannya untukmu? Apakah mungkin? Tentu jawabannya TIDAK!!!

Di penghujung bukan april kita sepakat untuk break beberapa minggu, dan kita bertemu kembali disaat anniversary kita. Susah rasanya melepas keperginnya. Entah hati, pikiran, dan perkataanku tak sejlan. Hati berkata jangan. pikiranpun tak tau arah dan berujung ucapan mengatakan “iya, aku setuju”
Hari demi hari detik jam yg berbunyi yg selalu kurasakan ada dia disampingku namun sekarang tidak. Tiad telah tiada. Entah kemana dan akupun mulai engan mencarinya. Aku lelah.

Dulu aku sering percaya bahwa cinta butuh tatap mata, butuh perjumpaan nyata, dan sebuah sentuhan ringan seperti pelukan, kecupan, dan sedikit bisikan yg menggelitik telingga. Hingga pada akhirya aku lupa akan itu semua.

Semua terjadi begitu saja, tanpa kita ketahui kelanjutan cerita cinta kita. Aku tahu ini bodoh! Terlalu banyak perasaan asing yg menggelayutiku. Ada banyak cerita yg tak mampu aku ingat lagi seperti dulu. Terlalu rumit untuk diceritakan seakan perasaan itu berlomba-lomba menuju otak dan mengirim sinyal-sinyal buruk. Hingga bibir kelu dan menebut-nyebut …. Aku cemburu

Mungkin bikin aku jelous adalah hobu baru kamu, entahlah. Kamu selalu tertawa saat melihat aku seperti itu dan kamu merasa bahagia saat aku seperti itu. Apakah iya? Tentu saja iya! Kerena terbiasa dengan sapaan kecilmu itu, ingga kini telah menghilang untuk beberapa minggu. Dan kaupun tergoda denga wanita lain, tak ada komunikasi. Apakah ini yg disebut cobaan cinta?

Jelaskan padaku apa yg selama ini membuatku masih ingin bertahan? Jelaskan. Apa yg menyenangkan dengan jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh keluk wajahmu. Apa yg bisa kita harapkan dari jarak ribuan kilometer yg memisahkan kita? Ketika rasa rindu yg menggebu dan kutau kau tak ada disampingku. Sejauh ini kita masih bertahan, entah mempertahankan apa. Karna yg kurasakan sekarang hanyalah bayangan semu cintamu dan dirimu yg tak benar-benar nyata.

Aku tak paham saat dingin mencekam kau tak lagi ada untuk memelukku. Dan juga tak mendekapku dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, dan hanya aku yg mengusapnya. Bukan dirimu yg menghapus basah dipipi. Aku hanya bisa menatap fotomu dan merapal namamu dalan doa-doa kecilku. Dan mendengar suaramu dari ujung rekaman suaramu yg dulu perna kau berikan untuk pengantar tidurku.

Kulakukan semua seakan baik-baik saja. Seakan aku tak terluka. Seakan tak ada air mata. Dan  begitu meyakinkanmu bahwa tak ada yg salah diantara kita. Dan, apakah kau disana juga baik-baik saja? Apakah rindu yg kita simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu? Sayang, aku leleah. Pulanglah :’(
Kamu mungkin tertawa, jelas! Cinta, dimata beberapa orang hanyalah omong kosong y jauh dari nyata. Mungkin sekarang aku termasuk golongan orang-orang itu. Karna tak ada kepastian yg pasti untuk titik temu hubungan kita. Kau jenuh karna sikapku dan akupun jenuh karna kita begini-begini saja. Tak ada yg istimewa lagi seperti dulu. mungkin hanya aku yg tau bagaimana rasanya berjuang, kamu???? apakah juga seperti aku??? entahlah

Indah memang cinta mengubah hitam putih menjadi warna-warni yg bergemelap di angkasa. Tumpukan kebahagiaan yg semakin menuju sempurna. Semuanya terasa manis walau terkadang terasa asing. Rasa nyaman itu lama-kelamaan berubah menjadi rasa takut kehilangan. Dan dengan air mata aku selalu mendoakan.
Setelah melalui jalan yg cukup panjang. Akirnya kita bertemu, seakan ingin memeluk namun sikap ini terlanjur kecewa karna perbuatannya yg keterlaluan di jejaring sosialnya. Kuping yg selama ini memanas karena omongan-omongan buruk dari banyak orang kini telah padam ketika bertemu, bertatap muka dan melihat matanya lebih dalam dari biasanya.

Benar kita saling memiliki, benar semua terjadi seakan seperti mimpi. Dan benar jika semua ini hanyaalah sebuah ilusi. Entah dengan akhir yg aku sukai ataupun tidak. Tapi bisakah jemarimu hentikan semua rasa keluh tangisku selama ini? Atau kita hanya parsah untuk keputusan mengakhiri sebuah hubungan ini? Apakah ada hal yg special yg selalu bisa membuatmu berlari kepadaku?
Sungguh tragis, miris, ironis. Prihatin terhadap keadaan. Sungguh aku tak percaya tentang cinta tanda tatapan mata, juga tanpa genggaman tangan. Tapi mengapa aku sampai saat ini masih takut kehilangan walau sebenarnya kita telah berpisah sejak beberapa jam yg lalu.

Aku hanya bercanda Tuhan, memang tak sewajarnya disaat seperti ini aku bercanda, aku tak serius dengan ucapanku beberapa jam yg lalu. Aku hanya ingin memastikan tatapan matanya masih sehangat dulu dia menatapku, tajam. Hanya itu yg bisa membuat aku percaya lagi jika dia masih menyayangiku dan cintanya kembali nyata seperti semula. Namun apa daya, ini hanya sebuah kesalah pahaman belaka. Aku rela Tuhan walau tak ikhlas untuk melepasnya.

Bolehkan aku mencabut kata-kataku yg dulu perna kuucap Tuhan? Ingataka engkau tentang ucapanku yg satu ini “jangan putus dulu yaAllah… aku belum nangis dipundaknya :’(“ kini aku telah menangis dipundaknya. Apakah kau akan mengambilnya dan tak akan mengembalikannya disampingku lagi? Ijinkan aku menarik kata-kataku yg itu Tuhan. Terkadang dia bersikap tak sesuai kata hatinya, dan kadang dia melawan kata hatinya. Dan itupun aku belum bisa memahami :’)

Tuhan, mengapa dia tak sehangat dan tak serama dulu. Saat dia bersamaku … saat kita hanya berdua. Cukup kau tahu, aku tak pernah lelah menghadapi kekuranganmu. Meskipun begini, aku bangga bisa mencintaimu.